Mengingat Kembali Nilai-Nilai Luhur Ki Hajar Dewantara

http://smklenterabangsa.sch.id/wp-content/uploads/2015/05/ki-hajar-dewantara-800x445.jpg

Ki Hajar Dewantara, Bapak Perintis Pendidikan Nasional yang hari lahirnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Sumber: link

Pendidikan merupakan upaya pengembangan aspek manusia seutuhnya secara seimbang dan tak pernah berhenti. Berbicara pendidikan di Indonesia tidak akan lepas dari sebuah nama, Ki Hajar Dewantara, Bapak Perintis Pendidikan Nasional. Hari lahirnya (2 Mei 1889) diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), dan Ia juga dinobatkan sebagai pahlawan nasional atas jasanya di bidang pendidikan. Penetapan Hari Pendidikan Nasional tersebut didasari oleh Kepres RI No. 316 tahun 1959 tentang hari-hari nasional yang bukan hari libur.

Ki Hajar Dewantara telah mewariskan sebuah pola pendidikan yang menitik beratkan pada kearifan lokal. Hakikat pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah memasukan kebudayaan ke dalam diri anak dan memasukan anak ke dalam kebudayaan supaya menjadi makhluk yang insani. Menurutnya, inti dari pendidikan adalah memanusiakan manusia itu sendiri. Kearifan lokal atau kebudayan memiliki peran penting dalam proses memanusiakan manusia.

Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa dalam pendidikan seharusnya manusia dipandang sebagai kesatuan yang utuh terdiri dari koginitif, afektif, psikomotor dan spiritual. Pendidikan yang terlalu meniti beratkan satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan manusia. beliau mengingatkan kembali bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual (koginitif) belaka hanya akan mencabut seseorang dari hakikat kemanusiaanya.

Dalam Peringatan Hardiknas 2016, Anies Baswedan berharap dengan tema ‘Nyalakan Pelita, Terangkan Cita-Cita’ kali ini pendidikan benar-benar berperan sebagai pelita (penerang) bagi setiap anak Indonesia untuk menyiapkan masa depannya. Dengan pelita, kita bisa melihat banyak hal dan kelak pelita tersebut yang akan mengantarkan untuk mengapai cita-cita.

Dewasa ini, pendidikan cenderung hanya sekadar melihat hasil akhir daripada proses. Guru ataupun lingkungan membentuk pemahaman bahwa siswa yang ‘baik’ adalah siswa yang selalu mendapat nilai tinggi (kognitif). Seakan-akan dalam pembelajaran yang terjadi hanya transfer ilmu belaka, mengabaikan sikap-sikap arif tertentu yang seharusnya diperhatikan. Ketika kognitif anak berkembang namun tanpa dibarengi dengan perkembangan afektif, psikomotor dan spiritual, maka akan menghasilkan ketidakutuhan dan mencabut seseorang dari hakikat kemanusianya.

Selain proses pembelajaran yang hanya bersifat koginitif, teknologi yang berkembang juga harus menjadi hal yang diwaspadai. Disamping kelebihannya, kemudahan teknologi seperti tayangan televisi, kebebasan menggunakan handphone maupun internet, dan lainnya terkadang membuat kita lalai untuk memperhatikan anak. Karena dalam mencapai keempat faktor tersebut secara optimal, kita tidak bisa menyerahkan anak begitu saja pada teknologi. Sehingga, kita pun harus kembali mengingat tri pusat pendidikan yang diajarkan Ki Hajar Dewantara.

Apabila Tri Pusat Pendidikan, pendidikan dalam keluarga, pendidikan dalam alam perguruan, dan pendidikan dalam alam pemuda atau masyarakat kembali dijalankan, maka akan dapat menghasilkan para pemimpin berkarakter di masa depan. Pendidikan pun akan dapat dicapai secara maksimal. Ing ngasa sung tullodho, ing Madya mangun karsa dan tut wuri handayani tidak akan melakukan penyalahgunaan wewenang atau kekuasaan, tidak akan melakukan manipulasi keuangan, korupsi dan pelanggaran norma kesusilaan.

Selain pengembalian Tri Pusat Pendidikan, dianjurkan juga untuk menambahkan nilai-nilai kearifan lokal budaya Indonesia dalam setiap proses pembelajaran. Sehingga siswa bisa memiliki sikap yang santun, jujur dan bertanggung jawab dan sikap positif lainya yang terdapat dalam kebudayaan kita.

Mari kita semua kembali menggali nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai penuntun kepada pendidikan yang lebih baik lagi. (Aida/JT)

*

*

Top