‘Bahasa Esperanto dan Liberalisme Utopia’, Membahas Bahasa Esperanto untuk Uni Eropa

Untitled-1

Syaeful Anwar dari Klab Global Literacy memberikan tanggapan mengenai Bahasa Esperanto dari perspektif lingustiknya di acara Kajian Studi Asia Afrika dengan tema ‘Bahasa Esperanto dan Liberalisme Utopia’. Foto: Dokumentasi SMKAA

Kajian Studi Asia Afrika (KSAA) kembali menggelar diskusi ilmiah dengan tema ‘Bahasa Esperanto dan Liberalisme Utopia’. Kegiatan ini memiliki tujuan memperkenalkan Bahasa Esperanto sebagai bahasa perdamaian serta mencoba mengkaji secara ilmiah kemungkinan Bahasa Esperanto menjadi bahasa resmi atau alternatif di Uni Eropa.

Keynote paper diisi oleh Desmond S Andrian memberikan materi mengenai Language Rhetoric of the Social Reality of the International System. Ia memaparkan kondisi sistem internasional yang terhierarki ke dalam beberapa kelompok negara, dengan menggunakan teori World System Theory dari Wallerstein. Dalam pembahasan tersebut, ia menganalisis konstelasi hubungan internasional yang terdiri dari negara major, semi-phery sampai negara miskin atau phery-phery yang saling berinteraksi. “Dapat ditarik kesimpulan bahwa bahasa merupakan salah satu medium dan instrumen untuk mempersatukan antar-bangsa dan negara dalam kondisi sistem,” kata Desmond.

Pemaparan materi selanjutnya diberikan oleh Iyan Septiana dan Qonita Qurota’ayun, mengenai hasil prapenelitiannya yang bertemakan ‘Bahasa Esperanto: Dari Liberalism ke Neo-Liberalisme Institusional Studi Kasus Uni Eropa (2004-2014).’ Keduanya menguji teori Liberalisme dari Immanuel Kant dan Wodrow Wilson seta Neo-Liberalisme kedalam kasus multilingualisme di Uni Eropa. Pengujian teori tersebut digunakan untuk menjawab rumusan masalah mengenai kemungkinan Bahasa Esperanto menjadi bahasa resmi dan alternatif Uni Eropa di tengah-tengah paradigma kebijakan multilingualisme yang masih belum efektif. Sebenarnya sudah ada organisasi yang mendukung Bahasa Esperanto sebagai bahasa resmi Uni Eropa, begitu pula dengan mulai digunakannya Bahasa Esperanto di kalangan masyarakat.

“Saat ini terdapat 24 bahasa resmi di Uni Eropa namun tidak dipergunakan karena setiap negara berusaha untuk mengedepankan bahasanya masing-masing,” jelas Iyan.

Menurut teori Liberal ala Wilsonian, bahasa Esperanto merupakan bahasa yang netral, bahasa yang mudah di pelajari, selain itu bahasa Esperanto merupakan Bahasa Perdamaian sehingga dari pengujian teori tersebut dapat disimpulkan bahwa Bahasa Esperanto seharusnya dapat menjadi bahasa resmi bagi Uni Eropa.

Setelah pemaparan prapenelitian, salah satu anggota dari Klab Global Literacy SMKAA Syaeful Anwar memberikan tanggapan dari perspektif linguistiknya. Menurutnya, bahasa Esperanto merupakan kekayaan dan keberagaman yang harusnya tetap dijaga bahkan digunakan sebagai media pemersatu bangsa Uni Eropa. (Devi N/JT)

Related posts

*

*

Top