Dunia Gikuyu di mata Jomo Kenyatta

London 1935, seorang pemuda Gikuyu, wakil Kikuyu Central Association dan editor jurnal Mugwithania bernama Jomo Kenyatta berada di gelombang Pasang Surut Kulit Berwarna gerakan Pan Afrika di Inggris. Kolonialisme Inggris yang sebentar lagi bergesekan dalam palagan Perang Dunia II ditambah pertentangan antar kelompok “kiri-kanan” dalam merumuskan gerakan Pan-Afrika, turut membawa Kenyatta dalam kebimbangan. Di tengah pergulatan pemikiran itu, orang yang bakal menjadi delegasi Kenya Africa National Union (KANU) dalam Kongres Pan Afrika ke-5, 1945 ini dipertemukan dengan salah ‘pendekar’ ilmu antropologi yaitu Bronislaw Malinowski.

9780394702100-usHasilnya ialah 367 halaman buku berjudul Facing of Mount Kenya; The Tribal Life of Gikuyu, sebuah studi etnografi yang dilakukan oleh Jomo Kenyatta atas tanah kelahirannya sendiri. Memberi sentuhan native’s write their own culture menjadi keunggulan tersendiri bagi buku ini, apalagi studi tentang masyarakat Afrika saat itu masih didominasi oleh tafsir ilmuwan Britania. Dus, David Hayano dalam essaynya Auto-Ethnography: Paradigms, Problems, and Prospects (1979) memberi kredit tersendiri bahwa buku yang ditulis oleh Jomo Kenyatta ialah variasi bagi penulisan antropologi sebab untuk pertama kalinya masyarakat Afrika dilihat oleh orang Afrika sendiri. Tentu tidak mengherankan bila Bronislaw Malinowski membuka kata pengantarnya dalam buku ini dengan kalimat anthropology begins at home atau antropologi yang bermula di rumah (sendiri).

Sementara itu, dalam tulisan Ethnography as Politics, Politics as Ethnography: Kenyatta, Malinowski, and the Making of Facing Mount Kenya (1996), Bruce Berman sendiri menyebut buku yang terbit pertama kali tahun 1938 ini memikul misi antropologi sebagai kegiatan politik. Dengan catatan yang lengkap serta sudut pandang orang pertama, Kenyatta menantang pandangan kaum kolonial yang menyatakan bahwa suku Gikuyu masih perlu “dicerahkan” sesuai nalar Eropa. Sehingga sangat sahih di bagian penutup Kenyatta mencetak tebal pernyatan sebagai berikut,

Disaat orang Eropa datang ke tanah Gikuyu dan merampas tanah, mereka (Eropa) tidak hanya mengambil sumber mata pencaharian, namun simbol material yang dipegang bersama oleh keluarga dan masyarakat tribal. Serta memotong fondasi keseluruhan kehidupan sosial, moral, dan ekonomi masyarakat Gikuyu. Beriringan dengan perampasan lahan, maka dimulailah pencelaan terhadap ide keagamaan masyarakat Gikuyu, dan mengabaikan konsepsi fundamental tentang keadilan dan moral atas nama peradaban dan kemajuan” (hal.317)

Kenyatta memberi porsi bahasan yang lebih pada aspek penguasaan tanah, kehidupan ekonomi, keagamaan serta model pemerintahan Gikuyu dalam karyanya tersebut. Berman menambahkan pengaruh mazhab Fungsionalisme ala Malinowski sangat berpengaruh pada karya Kenyatta. Melalui asumsi bahwa masyarakat ialah satu kesatuan dan budaya dipandu oleh pemenuhan kebutuhan hidup manusia yang bersangkutan, Kenyatta pun turut mengamini bahwa segala mitos, keagamaan, kegiatan ekonomi, model pemerintahan, sistem kekerabatan yang dianut suku Gikuyu ialah satu kesatuan utuh yang berfungsi menunaikan kebutuhan manusia.

Data yang didapatkan Kenyatta dalam buku ini berasal dari laporan selama ia menjadi editor jurnal Mugwithania dalam kurun waktu 1928-1930 yang memberinya kesempatan untuk berkunjung ke Gikuyu setelah ia banyak beredar di Britania. Selain itu, dalam menggarap karya yang terbit tahun 1935 ini Kenyatta mengandalkan sejarah lisan (oral history), minus narasi dari arsip sejarah dan sejumlah lapisan ingatan yang dulu pernah diceritakan kepadanya sebagai seorang Gikuyu. Kenyatta menjelaskan bahwa ia sebagai orang Gikuyu sudah menabalkan tradisi budaya dan sejarah dalam ingatan dan praktik yang diturunkan dari generasi ke generasi. Dengan kata lain, di buku ini Kenyatta sedang berusaha menuliskan dirinya sebagai bagian dari kebudayaan Gikuyu.

En toch, melalui karya ini kelak dikemudian hari nama Jomo Kenyatta bukan hanya dikenal sebagai Presiden Kenya merdeka pertama namun melanjutkan barisan para antropolog Afro mulai dari Antenor Firmin dari Haiti yang pada tahun 1885 menulis De l’égalité des races humaines menantang pandangan rasial Arthur Gobineau, dan belakangan Kwame Nkrumah dari Ghana turut menyumbangkan pemikirannya dalam antropologi yang digabung studi filsafat dengan judul Mind and Thought in Primitive Society: A study in Ethnophilosophy with Special Reference to the Akan Peoples of The Gold Coast, West Africa, tahun 1943.

***

Dalam buku ini Kenyatta menjelaskan bahwa kunci untuk mengetahui kehidupan  sosial, politik, kekerabatan, ritual dan keagamaan suku Gikuyu ada di aspek penguasaan tanah.  Sebagai masyarakat pertanian, suku Gikuyu sangat bergantung pada tanah sebagai penyokong dari kebutuhan material yang mana aspek spiritual dan kepuasan mental mereka bisa terpenuhi. Suku Gikuyu sendiri mengartikan bahwa bumi sebagai “ibu” dari mereka. Tanah dianggap memberi makan anak-anak mereka sepanjang hidupnya, dan kemudian setelah mati maka tanah yang merawat arwah mereka ke dalam keabadian. Bahkan, suku Gikuyu mempunyai istilah bernama Koirugo yaitu sumpah kesetiaan kepada ibu bumi (The) dengan cara mencecap rasa tanah.

e348336f0b11411d0bfe59ca58b8a6bf

Suku Gikuyu sedang menumbuk bijih padi

Kenyatta mencatat beberapa istilah penguasaan tanah antara lain 1) Mwene ng’undo atau Githaka, pemilik individu yang diperoleh berdasar garis keturunan atau melalui hak berburu pertama, 2) Moramati, perwalian, orang yang bertindak sebagai penjaga dari anggota lebih muda dari keluarganya, 3) Mohoi, orang yang memperoleh hak mengolah tanah dari ng’ondo atau tanah dari orang lain atau unit keluarga, berdasar hubungan pertemanan tanpa pembayaran atas penggunaan tanah tersebut, 4) Mociarwa, seseorang yang diadopsi ke dalam keluarga dari klan lain berdasar upacara khusus keagamaan, 5) Githaka kia Ngwataniro, tanah yang dikuasai oleh dua keluarga sebagai hak milik bersama, 6) Mothoni, relasi berdasar kekerabatan (ipar), yang memperoleh hasil panen atau hak membangun rumah atau keduanya, 7) Mothami, seseorang yang memperoleh hak mengolah lahan dan membangun rumah, atau Githaka dari orang lain atau klan lain. 8) Borori wa Gikuyu, wilayah Gikuyu mengacu pada unit politis dari semua tanah dalam batas-batas kesukuan. Kenyatta sendiri beranggapan bahwa sistem ini berasal dari pandangan mitos tentang asal muasal suku Gikuyu yang diambil dari nama pendirinya yaitu Gikuyu.

***

Asal muasal suku Gikuyu berdasar sumber legenda yang menyebutkan ada seseorang bernama Gikuyu dipanggil oleh Ngai atau Mogai (representasi Sang Pencipta) untuk diberikan hutan, sungai, ladang, dan termasuk gunung bernama Kere-Nyaga (Gunung Kenya). Kemudian, Mogai membawa Gikuyu ke puncak gunung dan menunjuk ke sebuah arah pohon ara (Mikoyo). Mogai memerintahkan Gikuyu untuk membangun rumah dan melanjutkan keturunannya di tempat yang dinamakan Mokorwe wa Gathanga. Mogai juga menyuruh supaya Gikuyu memberikan sesembahan dan menunjukkan tangan ke Kere-Nyaga untuk kebutuhan bantuan dari Sang Pencipta.

Setelah Gikuyu turun ke Mokorwe wa Gathanga, Mogai turut pula menciptakan perempuan yang menjadi istrinya yaitu Moombi, kemudian mereka hidup bahagia dan memiliki sembilan puteri tanpa satu pun putra. Gikuyu merasa bahwa ia harus mempunyai anak lelaki, ia pun meminta bantuan Mogai. Setelah Mogai menganjurkan bahwa Gikuyu harus menyembelih domba dan anak domba di bawah Mikoyo dekat rumahnya. Maka, Gikuyu mengoleskan darah dan lemak dari kedua binatang tersebut di batang pohon, ia juga membuat api unggun di bawah pohon itu dan membakar daging tersebut sebagai bentuk pengorbanan.

Selepas Gikuyu kembali lagi ke pohon suci tersebut, ia diberi sembilan anak laki-laki, tanpa berpikir panjang sembilan anak laki-laki tersebut di bawa ke rumahnya dan dikenalkan dengan keluarga Gikuyu. Seiring berjalannya waktu, sembilan anak laki-laki tersebut tumbuh dewasa dan siap dinikahkan, namun dengan satu syarat yaitu anak laki-laki harus tinggal di keluarga perempuan atau dikenal dengan matriarkat. Tak lama kemudian mereka bersembilan menikah memiliki keluarga baru yang disebut Mbari ya Moombi yang dikepalai oleh Gikuyu dan Moombi.

gikuyuSetelah Gikuyu dan Moombi meninggal, sembilan keluarga tersebut semakin berkembang dan sepakat untuk membentuk sistem clan baru. Nama-nama klan tersebut 1) Acheera, 2) Agachiko, 3) Airimo, 4) Amboi, 5) Angare, 6) Anjiro, 7) Angoi, 8) Ethaga. Sistem garis ke-ibu-an atau matriarkat yang begitu dominan saat itu, menimbulkan beberapa goncangan sampai pada akhirnya anak keturunan Gikuyu bermufakat untuk membentuk garis patriarkat/ke-bapak-an, dengan nama klan 1) Waachera, 2) Wanjiko, 3) Wairimo, 4) Wamboi, 5) Wangare, 6) Wanjiro, 7) Wangoi, 8) Mwethaga atau Warigia, 9) Waithera, yang berlaku sampai sekarang. Kenyatta berpendapat bahwa Gikuyu tersusun atas tiga elemen yaitu keluarga (mbari) yang terjalin dengan hubungan darah, kemudian clan (moherega), kumpulan dari mbari tadi, dan berikutnya masyarakat terbagi atasi tingkatan umur (riika). Sistem ini juga meyakini kelak dikemudian hari seorang anak akan mengambil alih kepemimpinan dari mbari-nya dan mereka diwajibkan saling mengerti klan dan silsilahnya.

***

Di bagian ekonomi, Kenyatta menjelaskan aktivitas pertanian suku Gikuyu diatur dalam kalender musiman yaitu 1) Musim Hujan (Mbura Ya Njahe) dari Maret hingga Juli, 2) Musim Panen (Magetha Ma Njahe) antara Juli dan mendekati Oktober, 2) Musim Hujan Pendek (Mbura Ya Mwere) dari Oktober hingga Januari, 4) Musim Panen Padi (Magetha Ma Mwere) dari Januari hingga Maret. Di dalam kalender itu sudah masuk juga kegiatan membersihkan lahan kosong (Matuguta), melindungi padi dari burung (Marira Ma Mwere). Tercatat ada beberapa tanaman unggulan yang diolah suku Gikuyu antara lain, padi-padian, jagung, kacang-kacangan, kentang, ubi jalar, tebu, pisang.

Suku Gikuyu juga memiliki kecenderungan untuk mengakumulasikan jumlah sapi, domba, dan kambing. Bagi mereka, sapi ialah penanda dari kemakmuran sehingga jika ingin disebut orang kaya maka ia harus memiliki sapi dalam jumlah besar. Sapi sangat jarang diperuntukkan untuk makanan, kecuali ada bencana kelaparan, namun banteng dan lembu jantan sering disembelih untuk pesta (kerugo) dan hanya bisa dilakukan oleh orang yang berkecukupan. Orang ini juga memiliki tanggung jawab memberi kebutuhan pangan berupa susu dan daging lembu jantan kepada golongan prajurit supaya mereka selalu sehat. Selanjutnya, Kenyatta menuliskan kambing dan domba sebagai nilai mata uang dan satuan harga atau disebut mbori. Selain itu, dua hewan ini seringkali dipakai dalam upacara pengorbanan dan tanpa kedua hewan ini, seseorang tidak akan bisa menikah, sebab kedua hewan ini dihitung sebagai roracio atau jaminan pernikahan.

Salah satu ulasan menarik berikutnya di bagian ini ialah keberadaan pandai besi. Kenyatta meletakkan pandai besi dalam kerangka kegiatan industrial yang mencakup praktik membuat tembikar, keranjang, dan penyamakan kulit. Klan dari pandai besi menempati posisi terhormat dalam tatanan masyarakat Gikuyu sebab mereka memiliki kemampuan yang luar biasa terutama dalam membuat tombak, pedang, cangkul, mata panah, palu dan sebagainya. Selain itu, klan pandai besi ditakuti karena jika mereka sampai mengutuk orang, tidak ada ritual satupun yang sanggup menyucikan orang yang dikutuk oleh klan itu.

Selain ditopang oleh sektor agrikultur, orang Gikuyu memiliki ikatan dagang dengan suku yang bertetangga dengan mereka yaitu Suku Masai dan Wakamba. Mulai dari pertukaran tombak, pedang, tembakau. Masai yang corak produksinya bukan agrikultur memandang mengolah tanah ialah jenis kejahatan terhadap Tuhan, sehingga mereka sangat tergantung dengan suplai barang dari suku Gikuyu. Namun, relasi dengan suku Masai ini seringkali diselubungi pula perang suku. Sebab utama perang antar suku bagi Kenyatta ialah ekonomi terutama saat peternakan suku Masai dilanda wabah penyakit. Suku Masai yang tergantung pada hewan ternak cenderung terpancing untuk menyerang suku lainnya. Kenyatta menjelaskan tidak ada pencaplokan teritori dan penindasan antar suku saat perang berlangsung. Malahan, hanya perampasan beberapa kawanan ternak saja dan biasanya perang hanya beberapa jam atau sehari penuh.

 

***

Di bagian penutup, Kenyatta menandaskan budaya dalam sistem tribal ditopang oleh kelompok keluarga dan tingkat-umur yang membentuk karakter dan menentukan tampilan tiap-tiap manusia di Gikuyu. Budaya dalam pandangan Kenyatta tidak bisa dipisahkan dari organisasi sosial dari kehidupan orang yang bersangkutan. Kehidupan suku Gikuyu ialah budaya yang saling menyatu, tidak terpisah dan utuh.

Ada beberapa hal yang saya catat selama membaca karya Jomo Kenyatta ini. Pertama, Kenyatta tidak menjelaskan  gugus bahasa yang dipakai oleh Gikuyu, dari total 13 bab yang dicatat oleh dia, tidak ada sama sekali bab yang menyinggung bahasa. Kenyatta lebih menitikberatkan sistem pengolahan lahan, pemerintahan dan mitos.  Kedua, saya sempat tertarik dengan penjelasan Kenyatta perihal upacara pengambilan sumpah setia kepada ibu bumi atau Koirugo. Namun, sangat disayangkan tidak ada catatan tentang siapa yang memimpin upacara tersebut dan siapa yang berhak mengikuti upacara itu.

Namun, terlepas dari beberapa kekurangan diatas. Kenyatta menghadirkan beberapa kebaruan terutama masalah siapa yang menuliskan kebudayaan tersebut. Saat Kenyatta menuliskan buku ini, perdebatan tentang penulisan budaya sedang hangat-hangatnya serta diwarnai problem tentang representasi bahwa wilayah Asia-Afrika ditafsir, ditakar, diceritakan dan dibayangkan oleh orang ‘Atas Angin’. Selain itu, karya Kenyatta kurang lebih memberikan jawaban tentang siapa yang memiliki otoritas untuk menuliskan dan berbicara atas nama kebudayaan non-Eropa terutama saat periode kolonial menginterupsi gerak kebudayaan Afrika. Sehingga, karya Kenyatta ini dianggap sebagai terobosan baru tentang mereka yang menuliskan dirinya sebagai bagian dari kebudayaannya sendiri atau biasa disebut Oto-etnografi. Selain itu, saat membaca karya Jomo Kenyatta ini, saya juga teringat dengan gagasan Linda Tuhiwai Smith (1999) tentang dekolonisasi metodologi yang berporos pada Reclaiming Knowledge. Gagasan ini satu nafas dengan pengetahuan yang memihak dan memberikan suara kepada ‘native’ untuk memaknai masa lalunya dan kebudayaannya untuk kemudian mencapai self-determination pada masa mendatang.

*Haryo Kunto Wibisono

 

Referensi

Breman, Bruce .1996. Ethnography as Politics, Politics as Ethnography: Kenyatta, Malinowski, and the Making of Facing Mount Kenya. Canadian Journal of African Studies/Revue Canadienne des Études Africaines, Vol. 30, No. 3 (1996), pp. 313-344

Hayano, David. 1979. Auto-Ethnography: Paradigms, Problems, and Prospects. Human Organization: Spring 1979, Vol. 38, No. 1, pp. 99-104.

Kenyatta, Jomo. 1938. Facing Mount Kenya. The Tribal Life of the Gikuyu. London: Mercury Books.

*

*

Top