Trump Jadi Presiden, Amerika Serikat Memasuki Era Baru

Presiden ke-45 AS Donald Trump dan Wakil Presiden Mike Pence berjabat tangan di hadapan pendukung di Manhattan, New York, Rabu (9/11). (REUTERS/Mike Segar)

Kemenangan Trump sudah resmi diumumkan pada 9 November lalu, tetapi sampai saat ini masih banyak orang-orang yang belum bisa menerima kekalahan Hillary Clinton atas rivalnya itu. Strategi kampanye yang dilakukan oleh pemilik real-estate Taipan, Donald Trump lebih jitu dibandingkan rivalnya. Perolehan United States Electoral College (lembaga konstitusional yang memilih presiden dan wakil presiden AS) untuk Trump didapatkan dari mereka pemilih-pemilih yang butuh konsistensi dan kepastian kebijakan, diantaranya untuk mereka yang mempunyai permasalahan ekonomi, dan gusar dengan janji-janji politik.

Trump kerap menggunakan isu-isu yang dapat memancing kontroversi dalam kampanyenya, sehingga banyak yang beranggapan negatif bahwa ia tidak dapat menjunjung tinggi nilai hak asasi manusia, demokrasi dan pluralitas sebagai konstitusi negara tersebut. Melarang muslim masuk ke Amerika, mendeportasi penduduk illegal sampai membuat tembok perbatasan antara Amerika Serikat dan Meksiko merupakan beberapa kebijakannya nanti.

Dalam kampanyenya, Trump merespon soal lapisan masyarakat yang tertinggal, kehilangan atau khawatir kehilangan pekerjaan karena persaingan yang tidak adil, pekerja dari luar yang tidak legal dan perubahan teknologi yang pesat, dengan slogan we will make America great again. Melalui penciptaan lapangan pekerjaan dan membangun program infrastruktur ia berencana mengembalikan kesempatan kerja serta berkembangnya kembali ekonomi AS.

Sedikit perbandingan Trump dengan Clinton, Trump merupakan seorang dengan latar belakang pengusaha, sebagai seorang businessman, Trump ialah orang yang sangat berhasil, bahkan ketika menjadi presiden nantinya Trump tidak menginginkan untuk menerima gaji. Trump sebagai seorang pelaku usaha akan mempengaruhi warna kebijakan yang ditawarkan, banyak spekulasi yang muncul bahwa kebijakan Trump akan terlihat dari segi ekonomi global, dibandingkan politik global. Hal tersebutlah yang membedakan Trump dengan Clinton yang banyak dipengaruhi dengan pandangan-pandangan politis.

Kebijakan Ekonomi Trump

Sekarang dunia menanti kebijakan ekonomi AS, karena sebagai negara adikuasa, sudah pasti apa yang dilakukan ataupun tidak dilakukan akan mempunyai secara dampak global. Reaksi di pasar saham dan keuangan merupakan reaksi awal yang bisa dilihat segera sesaat setelah pengumuman pemenangan Trump. Kekhawatiran terhadap ketidakpastian kebijakan ekonomi AS menyebabkan anjloknya pasar saham di AS dan Asia Pasifik. Namun, esok harinya kembali lagi, bahkan di sejumlah tempat dan beberapa sektor naik lebih tinggi, terutama sektor yang terkait infrastruktur, karena Trump dalam pidato kemenangannya mengatakan bahwa salah satu yang akan diprioritaskan adalah pembangunan infrastruktur.

Sementara itu, hasil yang diproduksi (keuntungan) pasar obligasi AS naik tajam karena diperkirakan belanja infrastruktur yang dicanangkan Trump akan dibiayai dengan utang dan peningkatan defisit anggaran AS. Terkait hal tersebut, banyak pihak memprediksi kenaikan suku bunga Federal Reserved (The Fed), bank sentral Amerika Serikat yang diperkirakan akan dilaksanakan akhir tahun akan ditunda. Hal ini berarti perubahan arus modal jangka pendek masih akan terjadi dan Indonesia nantinya akan menyesuaikan kebijakan moneter dan suku bunga dalam mengikuti perkembangan ini.

Bagaimana kebijakan ekonomi luar negeri Trump? Jika Trump melakukan apa yang selama ini dipidatokan di kampanye, Presiden Trump cenderung proteksionis, tidak mendukung perjanjian perdagangan internasional dan anti imigrasi. Maknanya bahwa AS mengikuti kecenderungan yang berkembang saat ini, sehingga pola anti keterbukaan dan anti imigrasi menjadi norma, tidak lagi ganjil.

Ada dampak langsung dari bagaimana akses ke pasar AS dan yang lebih penting, bagaimana hal itu akan berdampak pada kian berkurangnya peran AS dalam kerja sama ekonomi internasional multilateral. Selama satu dekade ini sudah ada pengurangan dari peran AS sebagai pemimpin di kancah kerja sama internasional. Misalnya terkait pendanaan United Nation (UN), reformasi di International Monetary Fund (IMF), dan dukungan kepada perjanjian perdagangan multilateral World Trade Organization (WTO).

Untuk perdagangan internasional, secara khusus disebut akan melakukan renegosiasi Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara, North America Free Trade Area (NAFTA), tidak didukungnya Kemitraan Trans-Pasifik, Trans-Pacific Partnership (TPP) antara 12 negara Asia Pasifik atau Kemitraan Perdagangan dan Investasi Trans-Atlantik antara AS dan Uni Eropa. Trump meyakini dia akan tegas merespons praktik perdagangan Tiongkok yang tak adil dengan menaikkan bea masuk hingga 45 persen dan mencegah manipulasi mata uang.

Harapan Pasca Kemenangan Trump

Dibalik banyaknya opini publik yang mengatakan Trump tidak layak memenangkan pemilu Amerika Serikat, tentu masih ada secercah harapan yang dapat menjadi pelajaran bagi seluruh masyarakat dunia maupun komunitas internasional. Trump belumlah menunjukkan kemampuannya dalam memimpin Amerika Serikat (AS) untuk 4 tahun mendatang. Dengan terpilihnya Trump sebagai presiden Amerika Serikat, semua orang termasuk diri kita sendiri akan sadar dan paham betul bahwa kita harus senantiasa mengawasi segala macam kebijakan yang akan dilakukan Trump, media pun akan senantiasa menjadi penghubung untuk memberikan informasi terkait hal tersebut. (Devi N/JT)

Tags , ,

Related posts

*

*

Top