‘Puppet Show’ dari Klub Esperanto dalam Acara Penutupan Pasundan Mengajar

Klub Esperanto sedang mengisi acara penutupan pasundan mengajar dengan acara puppet show, kamis sore (12/1/2017)

Klub Esperanto sedang mengisi acara penutupan “Pasundan Mengajar” dengan menampilkan acara puppet show, Kamis sore (12/1/2017)

BANDUNG – Kamis (12/01), Klub Esperanto Konperensi Asia Afrika menampilkan acara puppet show tentang timun emas dalam sesi penutupan rangkaian acara Pasundan Mengajar dari BEM FISIP Universitas Pasundan (Unpas) di Panti Asuhan Muhammadiyah. Acara yang dimulai dari pukul 16.00 WIB ini merupakan acara seremonial penutupan dari seluruh rangkaian acara yang sudah dilakukan sebelumnya.

Acara Pasundan Mengajar yang bertemakan “Pengabdian dan Mengedukasi Masyarakat dalam Pilar-pilar Pengetahuan dan Budi Pekerti” ini sudah berlangsung selama 2 bulan dan bertempat di 4 tempat yang berbeda. Menurut Presiden BEM FISIP Unpas Ridwan acara ini bertujuan sebagai bentuk aktualisasi nilai tri dharma perguruan tinggi yakni pengabdian masyarakat. Ia berharap mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di kampus untuk masyarakat luas.

“Kedepannya, mahasiswa diharapakan lebih aktif lagi dan lebih semangat menyalurkan apa yang dia ketahui kepada masyarakat,” ujar Ridwan

Koordinator Klub Esperanto Akbar menyampaikan bahwa acara puppet show ini bertujuan untuk mengenalkan bahasa Esperanto kepada masyarakat, khususnya pelajar. Klub Esperanto menampilkan puppet show yang menggunakan sebuah bahasa Esperanto yang kemudian diterjemahkan kembali ke dalam Bahasa Indonesia. Penampilan tersebut merupakan sebuah bentuk dari Bahasa Esperanto sebagai sebuah bahasa perdamaian yang bisa digunakan siapa saja, dimana cerita yang ditampilkan adalah cerita tradisional tentang Timun Mas.

“Cerita Timun Mas yang selalu bersyukur dari apa yang selalu diusahakannya ini nantinya diharapkan mampu memberikan semangat kepada anak-anak panti asuhan agar selalu berusaha dan selalu bersyukur akan apa yang didapat,” ujar Akbar.

Acaranya yang dikemas menarik ini membuat banyak anak-anak panti merasa tertarik untuk mempelajari Bahasa Esperanto, Mega salah satunya. Santri ini mengungkapkan keinginnya untuk belajar suatu saat nanti.

“Bahasa Esperanto merupakan bahasa yang bisa menciptakan perdamaian, hal ini sesuai dengan cita-cita (saya -red) yang ingin membuat dunia lebih damai tanpa peperangan lagi,” ucap Mega. (Rizki/JT)

Related posts

*

*

Top