Sebelum Hilang

Salah satu adegan dalam film ‘Istirahatlah Kata-kata’. Sumber: Rolling Stone Indonesia

Generasi millennial Indonesia mungkin sudah tidak lagi akrab dengan nama Wiji Thukul. Bagi mereka, penyair Indonesia yang dikenal hanyalah Aan Mansyur, sosok yang bertanggung jawab dibalik kembalinya Cinta dalam film AADC2 –yang padahal sudah punya tunangan tajir tampan, ke pelukan Rangga.

Paling-paling hanya nama Pramoedya Ananta Toer atau Sapardi Djoko Damono yang dikenal. Itu juga sebatas karena nama beliau yang paling sering disebut oleh guru Bahasa Indonesia di sekolah.

Bagi generasi yang lebih tua sedikit, Wiji Thukul mungkin juga sudah bukan lagi tokoh menarik untuk diingat-ingat, apalagi tentang karya sastranya. Kontroversi logo palu arit dalam Rupiah baru lebih menggelitik untuk ditilik. Belum lagi, kadar ke-sahaja-an mereka akan meningkat 37% ketika berhasil menemukan jawaban atas teka-teki mengapa logo Alexis dapat membentuk kata PKI. Intinya, siapalah Wiji Thukul sampai masih harus diperhatikan?

Itulah mengapa akhirnya “Istirahatlah Kata-kata” (Solo, Solitude) dibuat Sutradara Yosep Anggi Noen yang berani menyajikan makanan dengan bumbu yang berbeda. Film ini memvisualisasikan pelarian seorang aktivis dan sastrawan Indonesia yang dikenal dengan kata-kata perjuangannya di masa reformasi, Wiji Thukul. Anggi berpendapat bahwa sejarah pergerakan demokrasi merupakan topik yang tidak boleh mengalah dengan waktu, apalagi mengenai orang-orang yang memperjuangkannya.

Jika kalian mengharapkan film ini diwarnai dengan adegan-adegan membara dan membakar semangat, saya harus bilang kalau kalian tidak akan menemukannya. Atau, jika ekspektasi kalian terpasang seperti menonton film biografis lainnya dimana tokoh utama dijadikan seorang pahlawan yang akhirnya dipuja-puja, saya harus katakan bahwa film ini jauh dari suasana itu. Istirahatlah Kata-kata lebih menyukai memberikan gambar dengan dialog yang minim, hanyalah kesunyian yang terdengar keras di telinga penonton. Setiap menitnya pun sarat akan kepedihan seorang Wiji yang dicap sebagai buronan negara, ketakutan menjadi dirinya sendiri. Pada akhirnya, Istirahatlah Kata-kata bukanlah media yang bertujuan untuk mentuhankan Wiji Thukul.

Mengutip kata-kata Puthut EA, film ini penting untuk ditonton bukan sekedar supaya kita kembali mengenal Wiji Thukul, namun sebagai pengingat bahwa tidak jauh dari hari ini, terdapat suatu masa dimana membaca buku harus sembunyi-bunyi, melakukan berbagai kegiatan dikuntit intel, tentara dan polisi dimana-mana. Melawan penguasa dan membela rakyat, menuntut kebebasan dan keadilan sosial. Kebebasan berbicara terasa mahal harganya.

Sekalipun hidup di masa seperti itu, tetapi tetap tumbuh orang-orang yang berani mempertaruhkan hidupnya untuk memperbaiki itu semua. Orang-orang yang tidak berhenti sekalipun terus di represi. Sampai akhirnya, mereka harus hilang, sampai sekarang.

La historia me absolvera, biar sejarah yang mecmbebaskanku.

Oleh Yovita Omega S.

One Comment;

*

*

Top