Diskusi Film Atambua 39° Celcius Bersama Layar Kita

DSCF0832

Riri Riza, sutradara dari film Atambua 390 Celcius, hadir sebagai narasumber pada acara diskusi film bersama Layar kita pada Sabtu (18/07) lalu.

Bertempat di Ruang Pameran Tetap Museum Konperensi Asia Afrika, film Atambua 390 Celcius diputar pada hari Sabtu (18 Maret 2017) kemarin. Turut hadirnya sang kreator film, Riri Riza, dan Ketua Layar Kita Tobing, sekaligus menjadi narasumber dalam diskusi film Atambua 390 Celcius, membuat acara ini menarik banyak minat penonton.

Atambua 39° Celcius adalah film berjenis dokumenter yang berdurasi selama hampir dua jam. Film ini bercerita tentang kehidupan orang-orang Timor Timur atau kini bernama Timor Leste yang mengungsi ke daerah yang jauh dari hingar-bingar kehidupan, bernama Atambua, setelah peristiwa lepasnya Timor Timur dari Indonesia. Tak hanya itu, film ini mengangkat tiga kisah karakter berbeda yang memberikan sentuhan dramatis sesuai dengan gaya film dari sang sutradara.

Film dokumenter sendiri bukan termasuk jenis film yang sering kita jumpai di layar lebar Indonesia. Lalu apa alasan dibalik pembuatan film ini? Sebenarnya, film Atambua 390 Celcius adalah film permintaan dari UNICEF, dengan tujuan untuk meriset dan mempublikasikan kondisi pendidikan, kebudayaan, kesejahteraan anak, dan kemiskinan setelah lepasnya Timor Timur dari Indonesia. Sesuai dengan skala yang diperoleh bahwa Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan provinsi termiskin ketiga se-Indonesia dan juga penderita AIDS terbesar se-Indonesia.

Film ini berhasil membuka kondisi Timor pada saat itu, dimana seks bebas adalah hal yang wajar serta budaya baca dan tulis adalah hal yang masih sangat asing sehingga media komunikasi saat itu menggunakan media rekaman.

“Film ini berbeda dari film-film lain yang pernah saya buat. Film ini diproduksi dari support publik. 30% finansial berasal dari crowdfunding dan pemainnya pun berasal dari orang-orang Timor asli yang sebelumnya tidak pernah menonton film bahkan tidak tahu apa itu film,” jelas Riri Riza.

Dialog sangat minim dalam film ini karena sengaja dibuat dengan unsur realistis dokumenter, yakni cerita yang dipaparkan melalui penampakan visual. Walaupun tidak banyak, dialog sengaja dibuat dalam bahasa Timor yang bertujuan untuk membantu para cast dalam menjiwai perannya.

Untuk membuat film ini, ada banyak tantangan dalam pelaksanaannya. Riri sendiri telah melakukan riset selama lebih dari satu setengah tahun dengan mewawancari orang-orang Timor yang dulunya merupakan korban evakuasi Timor.

Melalui film ini, diharapkan bagi Bangsa Indonesia untuk lebih membuka pandangannya terhadap kondisi yang terjadi di daerah-daerah Indonesia, seperti NTT dan Indonesia bagian timur lain. Sedangkan bagi para pegiat film, diharapkan untuk menciptakan film yang mengusung kondisi-kondisi Negara ataupun daerah Indonesia yang terjadi saat ini yang bisa digunakan sebagai media publikasi yang akan menarik masyarakat untuk lebih peduli pada lingkungan di Negaranya sendiri. Terpenting lagi, mengembalikan film Indonesia menjadi kebudayaan bukan hanya menjadi media hiburan semata. (Risa/JT)

*

*

Top