International Students Gathering: Revisiting The Bandung Legacy

 

IMG_4941

Beberapa pelajar asing tampak terlihat dalam salah satu sesi acara International Student Gathering yang dilaksanakan pada Jumat (21/04) bertempat di Museum KAA dan Gedung Merdeka dalam rangka peringatan 62 tahun Konperensi Asia Afrika (KAA).

BANDUNG – Dalam rangka peringatan Konperensi Asia Afrika (KAA) ke-62, Museum Konperensi Asia Afrika mengundang seluruh pelajar asing di Bandung untuk berkumpul, mengenal, dan mengenang warisan Bandung juga sejarah dan nilai-nilai bangsa Asia Afrika melalui acara International Student Gathering. Mereka merupakan pelajar dari berbagai negara-negara luar yang menempuh pendidikan di institusi dan universitas-universitas di Bandung.

“Dikumpulkannya berbagai pelajar asing di satu tempat, satu ruang bersejarah, Gedung Merdeka adalah untuk menyatukan dan melanjutkan warisan spirit Konperensi Asia Afrika, the Bandung Spirit,” ujar Pembina SMKAA Desmon S. Andrian dalam wawancara terpisah di Gedung Merdeka, Bandung, Jumat (21/4).

Sentral Koordinator Young African Ambassadors in Asia (YAAA) Hashim L. Umar Farouk dan Eksekutif Koordinator Asian Students Association in Indonesia (ASAI) Zahir membuka sambutan acara gathering ini. Dalam acara tersebut para pelajar dan para Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika (SMKAA) ini saling berkenalan dan berbincang hangat menceritakan pengalaman unik mereka.

Sambil menyantap hidangan ringan, mereka diajak menonton penampilan dari ASAI dan budaya tari Kelana dari Santika Dancegroup. Acara ini bersifat santai dengan tema stand-up party, acara semakin meriah dengan adanya games.

“Saya kesini untuk saling mengenal (pelajar) dari negara lain,” ujar salah satu pelajar dari Somalia, Hudeyfi.

Acara kemudian dilanjutkan ke ruang Gedung Merdeka, dengan dihadiri Duta Besar Republik Bolivarian Venezuela untuk Indonesia Gladys F. Urbaneja Duran, Sekretaris Direktorat Jenderal Informasi dan Publik Aziz Nurwahyudi, Kepala Museum Konperensi Asia Afrika Meinarti Fauzie, dan Pembina SMKAA Desmon S. Andrian sebagai moderator. Acara di Gedung Merdeka ini meliputi penayangan beberapa video mengenai sejarah dan emansipasi nilai-nilai KAA dan pembahasan tentang Non-Aligment Movement (NAM).

NAM dianggap sebagai gerakan non-blok pasca KAA dan merupakan bagian dari Persatuan Bangsa Bangsa (PBB). NAM memiliki prinsip mendorong negara-negara berkembang untuk memperkuat kedaulatan negara mereka, mendorong negara untuk memiliki hak dalam mengambil keputusan mereka, menangani krisis dan perbedaan isu yang terjadi, membantu dalam bidang pendidikan dan kemanusiaan.

“Yang terpenting menekankan kepentingan negara bukan berdasarkan komersial, tetapi sosial,” ujar Duran. (Shella, Fariz/JT)

Related posts

*

*

Top