Rangkaian Peringatan 62 Tahun KAA Dimulai Pekan Depan

IMG_6994

Rangkaian acara peringatan 62 tahun KAA yang berlangsung mulai tanggal 18 – 24 April 2017 ini dijabarkan dalam siaran pers yang dilaksanakan Selasa (11/04) bertempat di ruang audiovisual Museum KAA.

Momen bersejarah Konperensi Asia Afrika menginjak usia ke-62 pada tahun ini. Peringatan 62 tahun KAA akan digelar di Museum Konperensi Asia Afrika (KAA) selama sepekan, mulai dari tanggal 18 sampai tanggal 24 April 2017. Peringatan KAA pada tahun ini akan mengusung tema ‘Live and Let Live: Peace and Harmony for All’.

Tema ini diambil dari kutipan pidato Soekarno pada Konferensi Asia Afrika terdahulu,” ujar Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie, pada siaran pers yang dilaksanakan Selasa (11/04).

Akan ada pengibaran 109 bendera negara Asia Afrika dan bendera PBB pada pembukaan Rangkaian Peringatan 62 Tahun KAA, Selasa, 18 April 2017.

Selanjutnya pada Kamis, 20 April 2017 akan ada acara Jamuan Teh Petang (JTP) bersama saksi-saksi sejarah KAA. Dalam acara ini nantinya akan dibahas mengenai salah satu tokoh KAA, yaitu Roeslan Abdulgani. Tujuan diadakannya JTP ini adalah untuk memberikan pemahaman dan apresiasi masyarakat kepada para saksi sejarah KAA.

“Roeslan Abdulgani merupakan anggota delegasi dan tokoh yang mendokumentasikan jalannya Konperensi Asia Afrika saat itu,” ujar Meinarti.

Kemudian acara selanjutnya, akan ada International Student Gathering yang akan dihadiri oleh Duta Besar Republik Bolivar Venezuela, komunitas mahasiswa asing yang sedang menempuh studi di Kota Bandung, dan Sahabat Museum KAA.

Pada Puncak Peringatan KAA hari Sabtu, 22 April 2017, akan digelar Bandung Historical Study Games (BHSG) dan Panggung Asia Afrika. Di hari Minggunya, 23 April 2017 akan diadakan acara Senam 1000 Anak. Nantinya rangkaian Peringatan KAA ditutup dengan penurunan 109 Bendera Asia Afrika dan bendera PBB pada hari Senin, 24 April 2017.

“Peringatan KAA ini tidak hanya seremonial saja, kami ingin masyarakat Bandung mengingat kembali bahwa 62 tahun lalu kita pernah berjuang melawan kolonialisasi yang dipimpin oleh para pahlawan kita,” pungkas Meinarti. (Gilang/JT)

Related posts

*

*

Top