Berpetualang dan Belajar bersama Bandung Historical Study Games

Salah satu kelompok di acara Bandung Historical Study Games (BHSG)

Salah satu kelompok di acara Bandung Historical Study Games (BHSG) melakukan aktivitas vlogging pada Sabtu (22/04) lalu. 

Tak seperti akhir pekan biasanya, kali ini Gedung Dwi Warna tampak disibukan dengan orang-orang berseragam biru dan hijau. Tepat pada hari Sabtu, 22 April 2017 pukul 05.00 WIB, Gedung Dwi Warna dipadati oleh ratusan pemuda-pemudi. Mereka adalah peserta Bandung Historical Study Games (BHSG) yang sedang melakukan pendaftaran. Sebanyak 102 kelompok yang terdiri dari 500 orang ini berasal dari berbagai kalangan, dimulai dari pelajar hingga pekerja bersiap untuk berkompetisi.

Banyak yang berbeda untuk BHSG tahun ini, salah satunya, tampak dua orang warga asing mengikuti kontes ini. Setelah diwawancarai, mereka adalah Joe dan Jerry, siswa pertukaran pelajar dari Amerika Serikat yang kini telah menetap di Indonesia selama 10 bulan. Saat ini mereka bersekolah di SMAN 5 Bandung dan SMAN 5 Bogor. Tidak hanya berbeda dari jumlah peserta, BHSG kali ini juga berbeda pada rute atau posnya. Kali ini BHSG memiliki 9 pos yang harus dikunjungi oleh para peserta, diantaranya Stilasi di BTPN Agung, Taman Vanda, Museum Mandala Wangsit, Stilasi di BJB Naripan, Penjara Ir. Soekarno, Stilasi 3 di Jiwasraya, Rotan Lido, Hotel Savoy Homan, dan Titik 0 Bandung.

Upacara pembukaan menandakan dimulainya BHSG yang diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Upacara ini dibuka secara simbolis oleh Direktorat Jenderal Informasi dan Publik, Azis Nurwahyudi. Ia berharap kepada seluruh peserta untuk mengambil manfaat dari kegiatan BHSG dan memperoleh pembelajaran terkait sejarah kebesaran bangsa Indonesia, sesuai dengan tujuan BHSG untuk mendidik masyarakat berkompetisi secara sehat dan mempelajari sejarah dengan cara yang fun.

Tepat pada pukul 07.00 WIB, dimulai dari Gedung Dwi Warna, para peserta yang tergabung dalam 102 kelompok tersebut harus bernapak tilas dan menjawab pertanyaan di setiap posnya, yang kemudian pengumpulan jawaban dilakukan dengan cara yang berbeda pula dari BHSG sebelumnya, vlogging. Cara ini membuat peserta harus mengutarakan jawabannya bak seorang reporter. Budaya vlogging yang sedang merambah masyarakat dianggap metode yang pas untuk mengajak masyarakat mengenal sejarahnya. Berbeda dari yang lalu, kali ini kesan adventure lebih didapat peserta karena tidak adanya panduan dari panitia selain peta buta dan panduan live dari Radio Dahlia 101.5 FM dan Hits Radio 103.9 FM. Tidak adanya pemanduan langsung juga merupakan tantangan baru bagi panitia BHSG, bagaimana memastikan peserta tidak keluar dari jalur dan juga mengontrol waktu acara, dengan estimasi waktu pelaksanaan sekitar 5 jam.

Pukul 13.00 WIB seluruh peserta berkumpul dan beristirahat di Gedung Merdeka. Tampak sejumlah dari mereka beristirahat dengan merebahkan tubuhnya di lantai Gedung Merdeka untuk sejenak melepaskan lelahnya. Sambil beristirahat, peserta diperdengarkan berbagai informasi dan pembahasan soal bersama-sama dari panitia. Acara kemudian dilanjutkan dengan bersantap siang bersama dan diakhiri dengan pembagian sertifikat dan buku The Bandung Connection.

Puncaknya adalah pengumuman pemenang yang dilakukan pada malam hari pukul 19.00 WIB, ketika acara Festival of The Bandung Spirit-Panggung Asia Afrika berlangsung di Cikapundung River Spot. cara yang dimeriahkan oleh sejumlah bintang tamu ternama, salah satunya Tompi. Pengumuman pemenang juga diumumkan pada acara ini. Juara pertama tahun ini jatuh kepada Kelompok Burkinafaso, diikuti oleh juara dua dan tiga, Kelompok Fiji dan Botswana. Pemenang pertama mendapatkan trofi dan uang tunai sebesar Rp 2.000.000, sedangkan pemenang kedua dang ketiga mendapatkan trofi dan uang tunai masing-masing sebesar Rp 1.500.000 dan Rp 1.000.000. (Risa/JT)

Related posts

*

*

Top