Peringati Hari Pancasila, MKAA selenggarakan ‘Dari Pancasila ke Dasasila’

Wim Tohari Danieldi, ngobrol petang kali ini menghadirkan Dosen Hukum Pidana dan Kriminologi Universitas Islam Bandung Dian Andriasari, Penulis dan Pegiat Filsafat Syarif Maulana, serta Edukator MKAA Desmond S. Andrian sebagai narasumber.

Acara ‘Dari Pancasila ke Dasasila’ diisi oleh (dari kiri ke kanan) moderataor Wim Tohari Danieldi, Dosen Hukum Pidana dan Kriminologi Universitas Islam Bandung Dian Andriasari, Penulis dan Pegiat Filsafat Syarif Maulana, serta Edukator MKAA Desmond S. Andrian sebagai narasumber pada Rabu (01/06) lalu.

Dalam rangka memperingati Hari Pancasila pada 1 Juni 2017, Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA) bekerjasama dengan Forum Studi Asia Afrika (FSAA) mengadakan acara ngobrol petang yang berjudul ‘Konferensi Asia Afrika: Dari Pancasila ke Dasasila’.

Acara ini menggunakan konsep tadarus dan diskusi, tadarus mengenai ceramah Presiden Soekarno pada pertemuan Gerakan Pembela Pancasila di Istana Negara pada tanggal 17 Juli 1954 dan diskusi mengenai Pancasila dalam konstruksi ekonomi politik internasional, hukum dan filsafat.

Acara ngobrol petang ini dibuka oleh Kepala MKAA, Meinarti Fauzie. Ia menyampaikan pandangannya mengenai pancasila di Indonesia.

“Pancasila di Indonesia telah berhasil menyatukan Bangsa Indonesia yang majemuk dan kita juga harus bangga dengan ideologi pancasila tersebut,” ujar Meinarti dalam sambutannya pada Rabu (01/06).

Acara yang dimoderatori oleh Wim Tohari Danieldi, ngobrol petang kali ini menghadirkan Dosen Hukum Pidana dan Kriminologi Universitas Islam Bandung Dian Andriasari, Penulis dan Pegiat Filsafat Syarif Maulana, serta Edukator MKAA  Desmond S. Andrian sebagai narasumber.

Dian Andriasari menyampaikan bahwa di dalam sistem hukum di Indonesia, Pancasila merupakan falsafah negara, dan kita merupakan negara hukum yang tidak berdasarkan satu agama tertentu.

“Posisi Pancasila sebagai landasan falsafah negara sudah mulai banyak yang merongrong, padahal perdebatan antara relasi konsep agama dan negara sebenarnya sudah selesai pada saat Pancasila disepakati sebagai ideologi negara Indonesia,” ujar Dian.

Syarif juga menambahkan bahwa ideologi Pancasila itu bersumber dari atas nilai sosial budaya bangsa.

“Inti sarinya sudah dilaksanakan sejak dulu, dalam kehidupan sehari-hari,” tambah Syarif.

Dalam diskusi ini, Desmond menyampaikan bahwa gotong royong merupakan representatif dari pancasila yang dapat digunakan untuk melawan materialisme dan kolonialisme.

“Satu-satunya yang tidak bisa dimaterialisasi adalah nilai keseharian, jadi nilai keseharian itu hidup didalam diri kita, yaitu kolektivisme, gotong royong yang tidak bisa dimaterilasasi, dan koloniasisasi. Artinya kita memiliki kekuatan untuk fight back sebagai bambu runcing yang kedua,” ujar Desmond. (Gilang/JT)

Related posts

*

*

Top