Rahim Kebangsaan

BANDUNG, FSAA – Adakah bangsa yang lahir tanpa tali pusar? Begitu pentingkah mengetahui rahim sebuah bangsa? Pertanyaan itu dilontarkan Koordinator Forum Studi Asia Afrika Jefri Raditiyo saat diwawancara oleh tim Humas Sahabat Museum KAA pada Jumat, (27/10) di Sekretariat Sahabat Museum KAA Jalan Asia Afrika No.65 Bandung.

“Revolusi Perancis tak hanya telah meletakkan fondasi teoritis tapi juga sekaligus tonggak kebangsaan modern. Paham kebangsaan menggantikan kebangsawanan. Sejak itu, bangsa resmi tampil menjadi sumber legitimasi dan otoritas puncak,” kata Jefri.

Akan tetapi kebangsaan dalam Revolusi Perancis, lanjut Jefri, bukan tanpa kritik. Konsep kebangsaan yang lahir dalam peristiwa di Perancis itu dianggap sebatas membentuk badan eksekutif modern yang lebih berpihak pada kepentingan borjuasi. Padahal, konsep kebangsaan modern diharapkan menjadi antitesa terhadap kebangsawanan.

“Antara kebangsaan dan kebangsawanan ada fase transformasi. Fase ini harus dilalui dengan kesadaran obyektif bukan struktural. Bila berhasil dilalui, kebangsaan yang kelak muncul akan terhindar dari feodalisme baru yang berbaur dengan borjuisme,” imbuh Jefri.

Jefri menjelaskan, kasus transformasi itu pernah dijelaskan oleh Anthony Smith. Setidaknya ada tiga fase revolusi menurut Anthony Smith, yakni transisi dari feodalisme menuju kapitalisme, sentralisasi kekuasaan administratif dan militer oleh negara, serta standarisasi kesadaran budaya melalui pendidikan dan komunikasi modern.

Selain itu, Jefri juga meminjam pendapat Benedict Anderson perihal kebangsaan. Menurutnya, situasi kebangsaan Indonesia yang begitu majemuk mirip seperti penjelasan Benedict Anderson soal komunitas politis yang terbayang. Dalam pendapat itu, bangsa lebih sebagai sesuatu yang dibayangkan. Sebab, para warganya mungkin saja tidak saling mengenal atau bertemu dengan sebagian warga lainnya.

Saat ditanya cikal bakal kebangsaan di Indonesia, Jefri menuturkan, kebangsaan itu dimulai dari pengalaman bersama rakyat kecil sejak masa pra kemerdekaan. Kehadiran merkantilisme internasional asal Portugis dan Belanda di Nusantara telah menggumpalkan perasaan senasib sepenanggungan.

Keadaan itu, papar Jefri, makin diperparah oleh restrukturisasi feodalisme oleh kapitalisme internasional di Nusantara. Jefri mencontohkan, feodalisme di Indonesia tidak didekonstruksi melainkan direstrukturisasi berlapis. Akibatnya, ada dua lapis aktor eksploitatif dalam kolonialisme di Nusantara.

“Akumulasi keadaan itu telah menghantarkan pada sebuah kesadaran obyektif tentang pentingya persatuan kebangsaan. Puncaknya adalah Sumpah Pemuda yang dicanangkan dalam Kongres  II Pemuda di tahun 1928,” tandasnya.

Menutup penjelasannya, Jefri mengingatkan, masa lalu adalah adalah rahim kebangsaan. Perasaan kebangsaan adalah ruh kreatif bagi kerakyatan.

Sumber:  Forum Studi Asia Afrika

*

*

Top