Sjahrir dan Demokrasi Kerakyatan

BANDUNG, FSAA SMKAA – Menurut Sjahrir ada tiga tahap rehabilitasi kemerdekaan manusia. Pertama, rehabilitasi politik dalam bentuk kemerdekaan. Kedua, selanjutnya rehabilitasi mental dari dalam untuk menghadapi feodalisme dan dari luar untuk menghadapi modal-modal besar. Ketiga, rehabilitasi kultural untuk melawan perasaan rendah diri sebagai bangsa kulit berwarna.

Demikian disampaikan Muhnizar Siagian dalam pertemuan ketiga Sekolah Dasasila Bandung dengan topik ‘Sjahrir dan Demokrasi Kerakyatan’ yang diselenggarakan pada Sabtu, 2 Desember 2017 di Ruang Galeri I Museum KAA Jalan Asia Afrika No.65 Bandung.

Muhnizar Siagian yang karib disapa Bang Ucok itu membuka paparannya dengan mengingatkan peran kaum muda dalam  perkembangan Indonesia. “Semangat kebangsaan lahir dari golongan muda yang mendapatkan  pendidikan, demikian pula saat ini pemuda memiliki peranan penting dalam demokrasi” ucap Bang Ucok.

Bang Ucok melanjutkan, peran kaum ini perlu ditunjang dengan pendidikan sebab tanpa pendidikan istilah-istilah politik menjadi kabur dan menyulitkan. Selain itu, ia pula menyinggung transfromasi isu pasca Perang Dingin. “Menurut Huntington dalam Class of Civilization, konflik pasca Perang Dingin bukan lagi konflik ideologis negara tetapi lebih mengarah kepada kebudayaan, suku bangsa, dan agama. Singkatnya identitas akan menjadi sumber konflik,” urai Bang Ucok.

Pria lulusan Pasca Sarjana Universitas Padjajaran ini mengatakan, konflik identitas ini juga hadir di Indonesia. Konflik identitas ini muncul dalam bentuk polemik pribumi dan non-pribumi serta dalam bentuk mayoritas dan  minoritas. “Kita bangsa Indonesia memiliki tiga identitas, ketiga identitas itu adalah identitas nasional, identitas keagamaan, dan identitas suku bangsa. Ketiga hal ini kemudian dibenturkan satu sama lain,” rincinya.

Konflik identitas ini, bagi Bang Ucok, sudah selesai. Menurutnya kompromi identitas bangsa Indonesia sudah dicapai melalui Pancasila dan UUD 1945. “Pancasila mengakomodasi identitas keagamaan, identitas kebangsaan dan identitas kedaerahan. Lalu hal ini dipertegas dengan pembukaan UUD 1945 yang menjadi tujuan negara Indonesia yang berbunyi melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,” jelas Bang Ucok.

Kemudian Bang Ucok mengatakan, sila ke-2 Pancasila adalah sifat humanisme dan sila ke-4 adalah sifat demokrasi bangsa Indonesia. Sintesa humanisme dan demokrasi itu merupakan hal yang diperjuanglan oleh Sjahrir. “Ke arah luar, Repubik Indonesia harus memiliki sifat humanism. Sementara ke arah dalam, haruslah  bersifat demokratis,” ucap Bang Ucok mengutip pernyataan Sutan Sjahrir.

Akan tetapi, Bang Ucok juga mengingatkan, kedua sifat ini mendapatkan hambatan. Pasalnya, penjajahan tidak hanya dilakukan dalam bentuk fisik tetapi juga melalui kultural. Penjajahan kultural ini memerlukan rehabilitasi melalui pendidikan. Untuk itu, pendidikan merupakan alat yang penting untuk melalui tiga tahap rehabilitasi itu guna mencapai bangsa yang merdeka.

“Pendidikan bisa membawa kemerdekaan menjadi daulat rakyat alih alih daulat raja atau daulat modal,” pungkas Bang Ucok.

Sumber: FSAA

*

*

Top