Kunjungan Klab Nihao ke Museum Kebudayaan Tionghoa

Foto peserta kunjungan klab Nihao di Museum Kebudayaan Tionghoa

Salah satu klab di SMKAA yaitu klab Nihao adalah klab yang kegiatannya belajar tentang budaya dan bahasa Mandarin. Selain kelas yang diadakan tiap minggunya di Museum KAA, klab tersebut juga mempunyai agenda mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang berhubungan dengan Tionghoa. Seperti pada perayaan Imlek, mereka mengunjungi klenteng.

Beberapa waktu lalu Klab Nihao mengunjungi Museum Kebudayaan Tionghoa yang didalamnya terdapat sejarah-sejarah mengenai Kebudayaan Tiongkok, Minggu (04/03/2018). Kebudayaan Tiongkok ini disebut sebagai Museum Kebudayaan Tionghoa yang terletak di lantai dua Yayasan Dana Priangan, selain itu didalamnya juga terdapat rumah duka khusus untuk orang-orang Tionghoa.

Yayasan Dana Priangan ini didirikan oleh Li Xiang Sheng, lahir di Kwang Tung, Moyan, Cina. Ia pindah ke Indonesia pada tahun 1930 untuk membangun perusahaan, lalu namanya diubah menjadi Surya Widjaja. Berkat keuletan, ketekunan, dan wawasan yang luas, Surya menjadi pengusaha sukses dan mendapatkan pengakuan di Masyarakat Indonesia karena sifatnya yang mudah bergaul dan berjiwa sosial.

Pada tahun 1976, ia membentuk suatu tempat sebagai wadah komunikasi, dan informasi untuk mempererat ikatan suku-suku Tionghoa, di samping untuk melestarikan nilai-nilai budaya dan moral etnis Tionghoa, dibangunnya Yayasan Dana Priangan ini pun bertujuan untuk mengabdi dan melayani masyarakat sebagai wujud kepedulian sosial.

Museum ini berisikan tema menarik mulai dari sejarah perkembangan yayasan, kebudayaan tradisional Tionghoa, kuliner, perpaduan seni pakaian hingga tokoh-tokoh Tionghoa yang berjasa membangun negeri ini. Suku Tionghoa sudah lama ada di tanah air bahkan mereka pernah terlibat dalam kemerdekaan Indonesia yang jarang diketahui oleh masyarakat luas.

Foto salah satu koleksi yang ada di Museum kebudayaan Tionghoa

Di museum inilah akan diketahui sejarah dan perkembangan di Indonesia melalui kebudayaan Tionghoa, terdapat banyak nilai filosofi yang terkandung seperti permainan XiangQi (catur gajah), hari raya yang dirayakan oleh orang Tionghoa (imlek, cap gomeh, ceng beng, peh cun, dan lain-lain) atau makanan yang biasa di makan di Tiongkok sudah menjadi makanan yang lumrah di Indonesia, seperti tahu, tauco, siomay, dan lain-lain.

Foto peserta kunjungan sedang mendengarkan penjelasan mengenai permainan Catur Gajah (XiangQi)

 

Foto peserta kunjungan saat mencoba mempelajari kaligrafi Tionghoa (Shufa)

Hubungan baik antara Tiongkok dan Indonesia terbukti dari tokoh Lo Fong Pak (1738-1795), merupakan tokoh Tionghoa pertama yang menerapkan prinsip-prinsip demokrasi hingga akhirnya dihancurkan VOC, kemudian rumah yang berdiri di dusun kalijaga, Rt.01/ Rw.04 nomor 1533, Desa Rengasdengklok yang pemiliknya bernama Djiaw Kie Siong, merupakan rumah dimana Soekarno dan Hatta di desak untuk memproklamasikan kemerdekaan dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam kemerdekaan Indonesia.

Foto pengajar klab Nihao, Sri Retnoningsi, sedang menjelaskan mengenai beberapa kebudayaan Tionghoa

Kunjungan ini bertujuan mengenalkan kebudayaan dan sejarah Tionghoa kepada setiap anggota klab Nihao. Dalam museum ini, pengunjung akan disambut dengan suasana Tionghoa yang mengedukasi masyarakat akan sejarah kedatangan Bangsa Tionghoa di tanah air Indonesia.

“Dari setiap kegiatan yang diadakan oleh klab Nihao, selain memberikan edukasi untuk setiap anggotanya, kita juga bisa mendapatkan channel untuk pergi ke Tiongkok”, ujar salah satu anggota klab Nihao yang pernah tinggal di Tiongkok, Mutia. (Yuliawati/JT)

 

2 Comments

*

*

Top