Author Archives: Haryo Kunto Wibisono

Dunia Gikuyu di mata Jomo Kenyatta

London 1935, seorang pemuda Gikuyu, wakil Kikuyu Central Association dan editor jurnal Mugwithania bernama Jomo Kenyatta berada di gelombang Pasang Surut Kulit Berwarna gerakan Pan Afrika di Inggris. Kolonialisme Inggris yang sebentar lagi bergesekan dalam palagan Perang Dunia II ditambah pertentangan antar kelompok “kiri-kanan” dalam merumuskan gerakan Pan-Afrika, turut membawa Kenyatta dalam kebimbangan. Di tengah

Dekolonisasi Metodologi: Reclaim Your Knowledge!

Dekolonisasi Metodologi: Reclaim Your Knowledge!   “Kami punya sejarah tentang orang-orang yang meletakkan Maori dibawah mikroskop, persis seperti seorang ilmuwan mencermati serangga. Mereka yang mengamati merasa punya kekuasaan untuk mendefinisikan” (Merata Mita dalam Linda Tuhiwai Smith, Dekolonisasi Metodologi)   Pada dasarnya gelombang kemerdekaan yang mengubah wajah Asia-Afrika diikuti sejumlah langkah perjuangan dibidang politik, ekonomi, dan

Rachid Mekhloufi: Diplomat Kemerdekaan Aljazair di lapangan sepakbola*

“..Forgeting a career to join revolution. In 1958, that’s what Rachid Mekhloufi did taking the risk to avoid regret. Becoming the symbol of a struggle….and playing,playing,playing. Using football a propaganda tool..”[1]. Eric Cantona   Hubungan antara rasa kebangsaan dan olahraga pada dasarnya sangat erat, sejarah sudah mencatat bahwa lewat olahraga identitas kebangsaan terbangun. Begitupun pula

Fihavanana: ber-Gotong Royong ala Madagaskar (Obrolan singkat dengan mahasiswa Madagaskar)

Melihat Madagaskar tidak melulu bentang geografis pulau di lepas pantai tenggara Benua Afrika namun terhampar pula kronik peradaban yang pernah dirajut oleh pelaut Nusantara. S. Tasrif (1966;20-22) dalam bukunya Pasang Surut Kerajaan Merina menyebutkan bahwa Madagaskar berasal dari para pelaut Melayu yang merantau secara berkala. Sehingga ada yang mengatakan bahwa nenek moyang Madagaskar sebagian itu

Harambee: ber-Gotong Royong untuk Kenya Merdeka

Dalam pidato singkatnya saat Madaraka Day, 1 Juni 1963, Jomo Kenyatta mengatakan sebagai berikut: “…Kita harus bekerja lebih keras untuk melawan musuh-musuh kita yaitu kebodohan, penyakit dan kemiskinan. Kemudian menerjemahkan setiap kehendak rakyat menjadi kenyataan, negara Kenya merdeka harus segera memulai langkah-langkah dalam pembangunan ekonomi dan sosial. Tujuan pembangunan sosial bertujuan meningkatkan kualitas kehidupan keluarga

Ujamaa: ber-Gotong Royong untuk Keluarga Besar Tanzania

Uhuru na Umoja, Uhuru na Ujamaa, Uhuru na Kazi, Uhuru na Kujitegemea (Kemerdekaan dan Persatuan, Kemerdekaan dan Kekeluargaan, Kemerdekaan dan Karya, Kemerdekaan dan Berdikari)   Ir. Sukarno dalam pidatonya 1 Juni 1945 mengatakan bahwa Pancasila adalah hasil penggalian atas bangunan filosofis, kepribadian, dan kebudayaan yang sudah ada di Indonesia. Ia pun menambahkan bahwa “perasan” dari

Top