Napak Tilas articles

Perempuan Angkat Karya

Perempuan Angkat Karya

“A lady’s imagination is very rapid; it jumps from admiration to love, from love to matrimony in a moment.” – Jane Austen Sudah beberapa dekade sejak perjuangan Kartini membela hak wanita dan kita sudah mengecap hasilnya. Pada masa-masa kini, sudah banyak wanita yang secara gamblang menyuarakan pendapatnya dan memamerkan hasil pikirannya. Belum lagi yang cakap

Pudarnya Budaya Baca Indonesia

Bukan korupsi, tapi bencana nasional. Namun bukan gempa dan sebagainya, tapi ini tentang budaya. Namun bukan tarian dan sejenisnya, melainkan sebuah kebiasaan. Kebiasaan itu adalah membaca. Ini sebuah bencana nasional. Bagaimana tidak, ketika sebuh negara besar seperrti Indonesia memiliki budaya baca yang rendah, kapan kita akan menjadi negara maju. Bayangkan kawan UNESCO mencatat pada 2012 mencatat

Mengingat Kembali Bahasa Warisan

Beberapa kali saya menelusuri beberapa kamus Indonesia – Inggris, baik yang konvensional maupun digital, bahkan google translate. Kata yang saya cari waktu itu adalah terjemahan tiga kata kerja: kasih, sayang, dan cinta. Hampir semuanya merujuk pada kata love. Beberapa merujuk pada affection, namun kata ini tidak berhubungan secara pas benar dengan setiap kata yang saya

Krisis Kongo, Pembunuhan Lumumba dan Surat Terakhir

Minggu-minggu berikutnya setelah Deklarasi Kemerdekaan Kongo, 30 Juni 1960, situasi negara Kongo bergerak menuju Kongo Baru yang berdaulat, segala tenaga bangsa diarahkan untuk mencapai kemandirian ekonomi, politik, dan budaya. Lumumba berada digaris depan untuk menggalang keberpihakan Kongo kedalam kelompok anti-kolonial sedunia. Hubungan dengan Belgia dan Amerika Serikat diistirahatkan, Kongo memilih  bergotong royong dengan Ghana (Kwame

Pidato Hari Kemerdekaan Kongo oleh Patrice Lumumba, 30 Juni 1960

Mengingat peristiwa bersejarah dapat disamakan dengan merajut sebuah tali temali yang dibentuk oleh alam pikiran manusia, pergulatan ide-gagasan, serta manusia yang bergerak. Sejarah kemerdekaan Kongo adalah hasil pergulatan panjang antara pihak kolonialis Belgia yang menamakan wilayah Afrika Tropis itu dengan nama Belgia Kongo sejak tahun 1908 sampai 1960. Sementara dipihak lain, ada gerakan nasionalis MNC

Hands Of Africa! Mengenang All-African People’s Conference, 5-13 Desember 1958

Tahun 1950 pertengahan, tepatnya rentang waktu 1955, 1956, 1957, dan 1958, dunia Afrika mulai berganti rupa, api semangat yang dibawa dari Bandung ditahun 1955 mulai bergentayangan di benua itu. Sepulang dari Bandung, para pemimpin Afrika mulai berani untuk memvonis mati segala bentuk penjajahan, ditandai kemerdekaan Sudan, Maroko dan Tunisia ditahun 1956, direbutnya Terusan Suez oleh

New Majestic, Saksi Bisu Pasang-Surut Kawasan Braga

Ketika mendengar kata “Braga”, salah satu potret yang langsung muncul dalam benak saya adalah sebuah gedung yang bagian atasnya terdapat hiasan kepala Barong dengan lidah terjulur. Kesan mistis tetapi eksotis yang terpancar dari gedung itu selalu berhasil menyedot perhatian saya kala melintasinya. Kini, gedung tersebut kita kenal dengan nama “New Majestic”.

Satu benua, Satu suara

“1945, a decisive year in determining the freedom of Africa” (W.E.B Du Bois) Rasa memiliki diawali dengan keinsyafan bahwa ada hal yang harus dipertahankan serta diperjuangkan, begitu pula dengan “mengada” dan “menjadi” Benua Afrika dimana lahirnya sejumlah peradaban mulai dari megahnya Piramida di Mesir, kilauan emas Kerajaan Ashanti di Ghana, anggunnya bangunan Timbuktu empunya Kerajaan

Bung Karno di mata Aljazair #112ThBungKarno*

Memang benar sangat sulit memisahkan Bung Karno dari Indonesia, mulai dari pemikiran, padangan politik, kharisma, kehidupan pribadinya, serta segenap pro-kontra atas kepemimpinannya di 1959-1965. Dan bagi bangsa lain, seperti Aljazair, Bung Karno dan Indonesia adalah inspirasi utama atas kebangkitan rakyat Aljazair menantang kolonialisme Prancis. Gedung Merdeka, Bandung, 18-24 April 1955, adalah saksi kehadiran pejuang FLN

Top