Pekan Literasi Asia Afrika 2019

JT – Pekan Literasi Asia Afrika (PLAA) merupakan rangkaian kegiatan tahunan yang diselenggarakan Museum Asia Afrika untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Tahun 2019 adalah tahun ke-5 acara PLAA dilaksanakan. Acara ini dibuka secara resmi oleh Direktur Informasi dan Media Kementrian Luar Negeri RI selaku Plt. Direktur Diplomasi Publik, Listiana Operananta, didampingi kepala Museum KAA, Meinarti Fauzie, pada Jumat, 4 Oktober 2019. Prosesi simbolis pengguntingan pita dilakukan oleh Direktur Informasi dan Media Kemlu RI dan Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMIDA) Jawa Barat.

 

Selama tiga hari berturut-turut dari 4 hingga 6 Oktober Museum KAA ramai dikunjungi pengunjung dari berbagai kota. Terdapat berbagai stand pameran dan bazaar buku turut serta memeriahkan acara PLAA 2019. Diantaranya Perpustakaan Nasional RI, Kedutaan Besar Jepang, Perpustakaan Diplomasi Kementrian Luar Negeri RI, Perpustakaan ITB, Perpustakaan Universitas Telkom, Dispusipda Jabar, Pusat Bahasa Mandarin Universitas Kristen Maranatha, dan Balai Literasi Braille Abiyoso. Sedangkan bazaar buku dimeriahkan oleh IKAPI, Gramedia, Lawang Buku, dan masih banyak lainnya. “Acaranya bagus, buku-bukunya lumayan lengkap, terus ada buku diskon, bagus buat meningkatkan minat baca orang-orang, saya harap untuk ke depannya bukunya lebih dilengkapi lagi”, ujar Amirul pengunjung dari Unikom Bandung.

Selain pameran literasi dan bazaar buku, pada hari pertama PLAA terdapat kegiatan “story telling” yang dihadiri oleh 125 peserta dari 12 SD dan teman-teman netra di Kota Bandung. Peserta yang berani bercerita dan menjawab pertanyaan dari “story teller” diberi penghargaan berupa bingkisan menarik yang diserahkan langsung oleh Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kemlu Yayan G. H. Mulyana. Di samping itu, kegiatan diskusi film “Il Postino” oleh layar kita menambah keseruan PLAA di hari pertama. Pada hari kedua dan ketiga acara PLAA semakin seru dengan kegiatan-kegiatan diskusi, yaitu: Diskusi dan Bedah Buku “Sepatu Orang Lain” karya Mia Saadah oleh Perpustakaan Diplomasi Kementrian Luar Negeri, Diskusi Literasi di Era Digital dengan tajuk “Menggali Pundi-Pundi Lewat Tren Sosial Media bersama Astrid Savitri”, Diskusi Buku “Silang Cahaya Kearifan Budaya” karya Sorela Disastra bersama narasumber Rameli Agam oleh Komunitas Asian-African Reading Club (AARC), Diskusi Pemanfaatan Teknologi bagi Kaum Disabilitas oleh Yayasan Mata Hati Indonesia (YMHI), dan Diskusi Film “Sampai Si Kappa” oleh The Japan Foundation.

 

Dari awal hingga akhir antusiasme masyarakat meningkat dan mencapai puncaknya pada hari terakhir. Para pengunjung tampak ceria, beberapa ada yang mendapatkan souvenir setelah memenangkan kuis yang diadakan beberapa stand pameran literasi, dan ada pula yang bermain game virtual reality yang dibawakan oleh mahasiswa-mahasiswa dari salah satu Laboratorium IT Universitas Telkom.

“Acara ini meriah, meskipun cape tapi menyenangkan bisa berinteraksi dengan pengunjung. Dan setelah beberapa tahun mengisi pameran literasi, antusiasme masyarakat terhadap PLAA ini saya rasa tinggi ya, di hari kedua ini sudah ada kurang lebih 300 orang yang berkunjung ke stand kami, dan saya dapat info juga kalau tahun kemarin mencapai hingga 1200 pengunjung, untuk itu saya harap ke depannya acara ini bisa lebih besar lagi, masih banyak yang bisa diprogramkan terkait literasi, kalau bisa acara ini terus ada, ya setidaknya sampai 10 tahun periode pertama” ujar Wahyu dari Perpustakaan Diplomasi Kementrian Luar Negeri RI. (JT/Widi)

Related posts

*

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top